Archive for Mei, 2007

Enam persoalan hidup

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya.

Lalu Imam Al Ghozali bertanya, pertama, “Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “mati”. Sebab
itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185)

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”. Murid -muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawapan yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah “masa lalu”. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. “Apa yang paling besar di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawapan itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “nafsu” (Al A’Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pertanyaan keempat adalah, “Apa yang paling berat di dunia ini?”. Ada yang menjawap baja, besi, dan gajah. Semua jawapan hampir benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah “memegang AMANAH” (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Pertanyaan yang kelima adalah, “Apa yang paling ringan di dunia ini?”. Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Sholat. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan solat, gara-gara meeting kita tinggalkan sholat.

Lantas pertanyaan ke enam adalah, “Apakah yang paling tajam di dunia ini?”. Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang… Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah “lidah manusia”. Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri..

 

Advertisements

Enam persoalan hidup

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya.

Lalu Imam Al Ghozali bertanya, pertama, “Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “mati”. Sebab
itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185)

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”. Murid -muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawapan yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah “masa lalu”. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. “Apa yang paling besar di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawapan itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “nafsu” (Al A’Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pertanyaan keempat adalah, “Apa yang paling berat di dunia ini?”. Ada yang menjawap baja, besi, dan gajah. Semua jawapan hampir benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah “memegang AMANAH” (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Pertanyaan yang kelima adalah, “Apa yang paling ringan di dunia ini?”. Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Sholat. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan solat, gara-gara meeting kita tinggalkan sholat.

Lantas pertanyaan ke enam adalah, “Apakah yang paling tajam di dunia ini?”. Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang… Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah “lidah manusia”. Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri..

 

4 golongan lelaki yang ditarik oleh perempuan ke neraka

Pertama:- Ayahnya 
Apabila seseorang yang bergelar ayah tidak memperdulikan anak-anak perempuannya di dunia.  Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti        mengajar solat, mengaji dan sebagainya. Dia membiarkan anak-anak perempuannya tidak menutup aurat…..tidak cukup kalau dengan hanya memberi kemewahan dunia sahaja maka dia akan ditarik oleh anaknya. 

Kedua:- Suaminya
Apabila  seorang suami  tidak memperdulikan tindak tanduk isterinya. Bergaul bebas di pejabat, memperhiaskan diri bukan untuk suami tapi untuk pandangan kaum  lelaki yang bukan mahram, apabila suami mendiam diri……walaupun dia seorang alim (solat tidak tangguh, puasa tidak tinggal) maka dia akan ditarik oleh isterinya. 

Ketiga:- Abang-abangnya
Apabila ayahnya sudah tiada, tanggungjawab menjaga maruah wanita jatuh ke pula abang-abangnya…..jikalau mereka hanya mementing keluarganya sahaja dan adik perempuannya dibiar melencong dari ajaran ISLAM ….tunggulah tarikan adiknya di akhirat. 

Keempat:- Anak Lelakinya
Apabila seorang anak tidak menasihati seorang ibu perihal kelakuan yang haram dari islam, maka anak itu akan disoal dan dipertangungjawabkan di akhirat kelak …… nantikan tarikan ibunya. Maka kita lihat bertapa hebatnya tarikan wanita bukan sahaja di dunia malah di akhirat pun tarikannya begitu hebat … maka kaum lelaki yang bergelar ayah / suami / abang atau anak harus memainkan peranan mereka yang sebenar tidak silap firman ALLAH S.W.T.:- 

“HAI ANAK ADAM PERIHARALAH DIRI KAMU SERTA AHLIMU DARI API NERAKA, DIMANA BAHAN PEMBAKARNYA IALAH MANUSIA DAN BATU-BATU…..” 

Hai wanita, kasihankan ayah anda, suami anda, abang-abang anda serta anak-anak lelaki anda…kesiankanlah mereka dan diri kamu sendiri……jalankan perintah ALLAH S.W.T. dengan bersungguh-sungguh dan dengan ikhlas.. 

Akhir kata, marilah kita berdoa agar kita semua terselamat dari ditarik dan tertarik….oleh mana-mana pihak ????? 

Harga seseorang muslim adalah sangat berharga. ALLAH S.W.T. nilaikan seseorang muslim dengan SYURGA… semua kaum muslim masuk syurga ….. janganlah kita membuang atau tidak mengendah janji ALLAH S.W.T. 

SEMOGA KITA SEMUA TERGOLONG DARI AHLI SYURGA YANG MEMASUKI-NYA TANPA HISAB. AMIN….. YA RABBALALAMIN. Wassalam

Just remember- Allah is watching you

Several years ago an Imaam moved to London . He often took the bus from his home to the downtown area. Some weeks after he arrived, he had occasion to ride the same bus.When he sat down, he discovered that the driver had accidentally given him twenty pence too much change. As he considered what to do, he thought to himself, you better give the twenty pence back. It would be wrong to keep it.

Then he thought, oh forget it, it’s only twenty pence. Who would worry about this little amount? Anyway, the bus company already gets too much fare; they will never miss it. Accept it as a gift from Almighty Allah and keep quite.

When his stop came, the Imaam paused momentarily at the door, then he handed the twenty pence back to the driver and said ” Here, you gave me too much change.

The driver with a smile replied ” Aren’t you the new Imaam in this area? I have been thinking lately about going to worship at your mosque.

I just wanted to see what you would do if I gave you too much change.” When the Imaam stepped off the bus, his knees became weak and soft. He had to grab the nearest light pole and held for support, and looked up to the heavens and cried “Oh Allah, I almost sold Islam for twenty pence!”

Remember, we may never see the impact our actions have on people.

Be careful and be honest everyday, because you never know who is watching your actions and judging you as a Muslim.

Just remember- Allah is watching you.

Zaid bin Haritsah

Satu-satunya shahabat yang namanya tercantum dalam Al-Qur’an

Bapaknya bernama Abdul Uzza bin Imri’ Al-Qais, ibunya bernama Sa’di binti Tsa’laba. Ketika masih kecil, ia diajak ibunya menengok kampung. Tiba-tiba datang pasukan Bani Al-Qayn menyerang kampung tersebut. Mereka juga menawan serta membawa pergi Zaid. Kemudian ia dijual kepada Hakim bin Hizam, dengan harga 400 dirham, yang kemudian dihadiahkan kepada bibinya, Khodijah binti Khuwailid. Ketika Khodijah menikah dengan Rasulullah SAW, Zaid bin Haritsah dihadiahkan kepada Rasulullah SAW.

Haritsah, bapak Zaid sedih kehilangan anaknya. Ketika beberapa orang dari Ka’ab menunaikan haji, mereka melihat dan mengenal Zaik sebagaimana Zaid mengenal mereka. Kepada mereka Zaid berkata : “Sampaikan beberapa bait syairku ini kepada keluargaku, karena sesungguhnya aku mengerti bahwa mereka sedih karena kehilanganku”. Lalu ia melantunkan beberapa bait syairnya. Setelah Haritsah mengetahui kabar anaknya, ia berangkat ke Mekkah bersama Ka’ab bin Syarahil sebagai jaminan. Di hadapan Rasulullah SAW, mengajukan permohonan agar anaknya, Zaid dibebaskan, dan ia akan memberikan Ka’ab bin Syarahil sebagai jaminannya. Oleh Rasulullah SAW dikatakan bahwa apabila Zaid memilih untuk ikut ayahnya, maka mereka tidak perlu memberikan jaminan. Tetapi seandainya Zaid memilih untuk ikut bersama Rasulullah, sungguh tidak ada paksaan untuk itu. Lalu dipanggillah Zaid. Dikatakan kepadanya : “Apakah kamu mengenal mereka?” “Ya, ini bapakku dan ini pamanku” jawabnya. Lalu Rasulullah SAW bersabda : “Aku telah mengenalmu (Zaid), dan kau pun telah mengetahui kecintaanku kepadamu. Sekarang pilihlah, aku atau mereka berdua”. Dengan tegas Zaid menjawab : “Aku sekali-kali tidak akan memilih orang selain Engkau (ya Rasulullah), Engaku sudah kuanggap sebagai bapak atau pamanku sendiri”.

Setelah itu, Rasulullah SAW mengumumkan kepada khalayak, bahwa Zaid diangkat sebagai anaknya. Ia mewarisi Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW pun mewarisinya. Setelah mengetahui demikian, bapak dan paman Zaid pergi dengan hati lapang. Zaid akhirnya masuk Islam, dan dinikahkan dengan Zainab binti Jahsy. Ketika Zainab dicerai Zaid, ia dipersunting oleh Rasulullah SAW. Maka tersebarlah gunjingan orang-orang Munafiq, bahwa Muhammad telah menikahi anak perempuannya. Seketika itu turun ayat 40 surah Al-Ahzab yang membatalkan ‘tabanni’ (mengangkat anak angkat), sekaligus penjelasan bahwa anak angkat, secara hukum tidak bisa dianggap sebagai anak kandung. Anak angkat tidak bisa saling waris mewarisi dengan bapak angkatnya. Demikian pula, isteri yang telah dicerai halal untuk dinikahi bapak angkatnya. Dalam ayat tersebut tercantum langsung nama ‘Zaid’, yang dengan demikian, ia adalah satu-satunya shahabat yang namanya tercantum dalam Al-Qur’an.

Zaid bin Haritsah r.a gugur sebagai syahid dalam perang Mu’tah, pada Jumadik Awwal 8 H. Pada waktu itu usianya 55 tahun.

Khobbaab bin Al-Art

Sahabat wafat pada tahun 37 H. dalam usia 73 tahun) Penuh Derita di Jalan Allah

Ia masuk Islam sebelum Rasulullah membina para sahabatnya di Darul Arqam. Ia orang ke enam yang masuk Islam.
Thariq bin Syihab menjelaskan bahwa suatu ketika serombongan sahabat Nabi SAW datang kepada Khobbaab, sambil berkata : “Bergembiralah hai Abu Abdullah. Sambutlah ikhwan (saudara) mu besok!”. Tiba-tiba ia menangis dan berkata, “Saya menangis bukan karena sedih, tetapi karena kalian telah menyebutkan suatu kaum yang kalian namakan/anggap sebagai saudara sendiri. Mereka telah berlalu dengan memperoleh ganjaran masing-masing. Aku khawatir kalau-kalau tidak akan tersisa amal (yang membuahkan pahala) setelah mereka.” (maksudnya, para sahabat adalah orang-orang yang rajin beramal soleh, sampai-sampai Khobbaab khwatir tidak ada lagi amal shalwh yang tersisa buatnya, wallahu a’lam).

Qais bin Abi Hazim berkata, “Kami datang menjenguk Khobbaab r.a. Pada perutnya terdapat 7 luka bakar. Ia berkata, ‘Seandainya Rasulullah SAW tidak mencegah kita untuk mengharapkan kematian, pastilah aku akan mengharapkan kematian tersebut. Sudah lama sakit yang saya derita ini”.
Setelah itu kami datang dan melaporkan kepada Rasulullah SAW. Ketika itu ia sedang berselimutkan dengan sorban. Kami berkata, ‘Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak meminta pertolongan kepada Allah?’ Seketika itu wajah beliau memerah. Beliau berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian pernah ditangkap dan lalu kepalanya digergaji, sehingga terbelahlah badannya menjadi dua bagian’. Namun semua itu tidak membuat mereka berpaling dari dien (agama) ini.

“Sungguh, Allah akan menyempurnakan / memenangkan agama ini sehingga seorang yang bepergian antara Shan’a (Yaman) dan Hadharal Maut tidak takut sesuatupun kecuali kepada Allah, dan srigala yang bakal memakan dombanya.” (diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Al-Ikrah).
Thariq bin Syihab menjelaskan bahwa Khobbaab r.a. merupakan salah seorang Muhajirin (yang berhijrah) pertama, dan termasuk orang yang disiksa karena (memperjuangkan agam) Allah SWT.
Riwayat dari Asy-Sya’bi mejelaskan, bahwa suatu saat Umar bin Al-Khattab r.a. bertanya kepada Khobbaab r.a. tentang pengalamannya melawan orang-orang Musyrik. Khobbaab menjawab, ‘
Wahai Amirul Mukminin, lihatlah punggungku ini.’

Umar berkata, ‘Saya tidak pernah melihat seperti yang saya lihat hari ini’. Khobbaab r.a. berkata, ‘Nyalakan api untukku yang tidak akan padam kecuali setelah tertindih punggungku.’ (maksudnya untuk mengobati rasa sakitnya).
Beliau adalah sahabat yang pertama kali dikebumikan di Kufah.
(Disarikan dari Shifatu Ash-Shofwah, 1223-224)

Kepada pencari kebenaran

Tiada siapa boleh dipaksa menerima Kebenaran, tetapi semestinya suatu yang mengaibkan apabila sesorang manusia tidak berminat mencari Kebenaran!

          Islam mengajarkan kita bahawa Pencipta kita telah mengurniakan manusia kebolehan berfikir. Justeru, menjadi tanggungjawab kepada kita untuk memikirkan sesuatu dengan objektif dan tersusun supaya kita dapat memuskilkan dan memikirkan apa jua persoalan.

          Tiada siapa yang patut menekan anda supaya membuat keputusan secara tergesa-gesa untuk menerima sebarang ajaran-ajaran daripada Islam, kerana Islam mengajar bahawa manusia patut diberikan kebebasan untuk memilih. Walaupun seseorang itu sudah bertembung dengan Kebenaran, tiada paksaan keatas beliau untuk menerimanya.

          Namun, sebelum anda mula membuat satu pendapat mengenai Islam, tanyalah diri anda sendiri samada maklumat anda mengenainya sudahpun mencukupi dan menyeluruh. Tanyalah diri anda samada maklumat itu anda dapati dari pihak ketiga. Dan pihak ketiga itu mungkin hanya didedahkan kepada beberapa penulisan mengenai Islam dan masih belum mengkaji Islam secara objektif dan sistematik.

          Adakah cukup adil untuk seseorang itu membuat kesimpulan mengenai rasa suatu hidangan masakan hanya berdasarkan khabar angin daripada orang lain yang juga mungkin belum merasai hidangan tersebut? Begitu jugalah, anda seharusnya mendapatkan maklumat mengenai Islam daripada sumber yang boleh dipercayai, dan bukan hanya merasainya tetapi perlu betul-betul memahaminya sebelum membuat suatu kesimpulan. Itulah cara intelektual dalam menjejaki Kebenaran.

          Dalam membuat langkah mencari Kebenaran seterusnya, Islam sentiasa mengiktiraf hak anda untuk bebas membuat pilihan dan bebas menggunakan akal fikiran kurniaan Tuhan. Tiada siapa yang boleh merampas hak itu dan memaksa anda tunduk kepada Pencipta kita, anda perlu mencari maklumat dan membuat keputusan anda sendiri.

          Semoga perjalanan intelektual anda menjejaki Kebenaran sentiasa dalam kesejahteraan dan akan berhasil.

Kepentingan Ikhlas bagi Para Rabbani

Para Rabbani yg terdiri drp mereka yg aktif dlm pendidikan rohani dan yg berjalan kpd Allah tlh bersetuju, bahawa kepentingan ikhlas bg setiap amal utk bekalan akhirat dan bg setiap org yg meniti jln menuju Allah.

 

Al-Imam Abu Hamid al-Ghazali berkata di dlm Muqaddimah kitab An-Niyyah Wal-Ikhlas Qash-Shidq, yg memakan seperempat bahagian dr kitab Al-Ihya’ :

 

“Dgn hujjah iman yg nyata dan cahaya al-Quran, mereka yg mempunyai hati mengetahui bahawa kebahagiaan tdk akan tercapai kecuali dgn ilmu dan ibadah. Semua org pasti akan binasa kecuali mereka yg berilmu. Mereka yg berilmu pasti akan binasa kecuali yg aktif beramal. Semua org yg aktif beramal akan binasa kecuali mereka yg ikhlas.”

 

Jadi sebutan mereka yg ikhlas amat rentan. Amal tanpa niat adalah ketololan, niat tanpa ikhlas adalah riya’, yg bererti sama dgn kemunafikan dan tdk berbeza dgn kederhakaan. Ikhlas tanpa kejujuran dan perlaksanaan adalah sia-sia.

 

Allah tlh berfirman ttg setiap amal yg dimaksudkan utk selain Allah, sbg suatu yg tdk bermatlamat. Di dlm al-Quran Allah tlh berfirman yg bermaksud :

 

“Dan Kami hadapi segala amal yg mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yg berterbangan.”   (al-Furqan: 23)

 

Perkara yg serupa dgn apa yg dikatakan oleh al-Imam al-Ghazali itu sblmnya juga tlh dikatakan oleh seorang Rabbani yg arif bernama Sahl bin Abdullah at-Tustary, “Semua manusia spt org yg sdg mabuk kecuali mereka yg berilmu. Semua org yg berilmu adalah org yg bingung kecuali mereka yg mengamalkan ilmunya.”

 

Dlm lafaz lain beliau berkata, “Dunia ini adalah kebodohan dan kematian kecuali ilmu. Semua ilmu merupakan hujjah ke atas pemiliknya kecuali yg diamalkannnya. Semua amal akan sia-sia kecuali yg dilaksanakan dgn ikhlas. Ikhlas itu dlm bahaya yg besar sehingga tetap berakhir dgnnya.”

 

Sebahagian yg lain juga berkata, “Ilmu itu laksana benih, amal laksana tanaman dan airnya adalah ikhlas.”

 

Ibn ‘Atha’illah berkata dlm Al-Hikam, “Sesungguhnya Allah tdk menyukai amal yg mendua (berbelah bahagi), dan tdk pula hati yg mendua. Amal yg mendua tdk diterima dan hati yg mendua juga tdk akan diterima.”

 

Amal yg tdk disertai ikhlas adalah ibarat gambar yg mati, dan raga tanpa jiwa. Allah hanya menginginkan hakikat amal, bkn rupa dan bentuknya. Maka dr itu Dia menolak setiap amal yg pelakunya tertipu dgn amalnya.

 

Dlm hadith shahih riwayat Abu Hurairah, bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

 

“Sesungguhnya Allah tdk melihat kpd jasad dan rupa kamu, tetapi Dia melihat kpd hati kamu.” Baginda memberi isyarat ke arah hati dgn jari-jari tangannya lalu berkata, “Taqwa itu letaknya di sini.” Dan Baginda memberi isyarat ke arah dadanya sebanyak tiga kali.”   (HR Imam Muslim)

 

Allah berfirman ttg mereka yg menyembelih haiwan qurban, iaitu yg dilakukan oleh mereka yg menunaikan haji dan umrah :

 

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tdk dpt mencapai (keredhaan) Allah, tetapi ketaqwaan drp kamulah yg dpt mencapainya.”   (al-Hajj: 37)

 

Allahu a’lam..

 

 

Fit-Thariq Ilallah: An-Niyyah Wal-Ikhlas, Syeikh Yusuf al-Qaradhawi